Wednesday, August 9, 2017

Cara Menolak Pacar yang Mengajak “Ehem…Ehem…”


Sebut saja “Bunga” (bukan nama sebenarnya). Seorang karyawati swasta di sebuah perusahaan yang sedang dilanda kesedihan karena baru saja diputus oleh pacarnya semenjak dua bulan terakhir. Pikirannya bingung, perasaannya sedih, dan semangat kerjanya menurun. Hubungan dua tahun yang telah dijalin dengan pacarnya tiba-tiba putus begitu saja tanpa ada sebab yang jelas. Cowoknya mengatakan putus dengan entheng melalui sms.

Menurut “Bunga”, cowoknya adalah laki-laki yang baik. Selama berpacaran, dia selalu diajak untuk berbelanja dan makan. Tentu sebagai seorang cewek, hal tersebut merupakan sesuatu yang spesial. Shopping, makan enak, jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan merupakan kesukaannya. Sebagai seorang pacar, “Bunga” ingin menunjukkan bahwa dia juga perhatian dengan cowoknya sampai-sampai hubungan mereka sudah berlebihan. Untunglah saat cowoknya mengajak hubungan layaknya suami-istri, “Bunga” menolaknya. Selang beberapa waktu kemudian, “Bunga” diputus oleh cowoknya tanpa alasan yang jelas.

Kisah “Bunga” hanyalah satu dari realitas yang ada. Ibarat gunung es, itu hanya ujung gunung es yang tampak hanya satu titik kecil. Jika ditelusuri dan didalami, realitasnya jauh lebih banyak. Bahkan, ada yang sudah kebablasan masih pacaran tetapi sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Bagi seorang cewek, salah satu sebabnya adalah karena kesulitan menolak. Ada yang berujung; MBA (married by accident) itu pun rumah tangganya tidak bahagia, ada yang ditinggal cowoknya sedang si cewek menanggung beban tak terkira, ada yang orangtuanya marah dan tidak menyetujui hubungan berlanjut, dan masih banyak lagi ujungnya. Dengan demikian, penting bagi siapa saja untuk mencegah dan menahan diri dari hubungan yang beresiko. Berikut ini sejumlah tips penting untuk mencegah akibat hubungan yang beresiko:


1. Menjadi seorang jomblo bukanlah aib
Tidak sedikit orang yang merasa malu dan rendah diri karena dilabeli sebagai seorang jomblo. Padahal, status jomblo bukanlah aib. Untuk membangun hubungan rumah tangga yang menyenangkan tidak harus melalui pacaran. Ada banyak bukti, mereka yang menikah tanpa pacaran tetapi melalui cara ta’aruf, rumah tangganya bahagia.

Baca: Fakta-fakta Ilmiah Tentang Pernikahan Tanpa Pacaran Terlebih Dahulu (Ta'aruf)


2. Jika pacaran untuk saling mengenal, mengapa sampai kebablasan?
Banyak orang yang berpacaran beralasan untuk saling mengenal atau untuk lebih mengenal pasangannya. “Masak kita mau menikah dengan orang yang tidak kita kenal?”, begitu argumentasi retorik yang biasanya diajukan. Memang benar adanya bahwa seseorang perlu untuk mengenal calon pasangannya sebelum kemudian memutuskan untuk membangun rumah tangga dengan calonnya tersebut. Namun demikian, perlu diingat bahwa status pacar tidaklah sama dengan status suami-istri. Jika suami-istri, salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban, maka pihak yang lain bisa mengajukan tuntutan secara hukum. Kalau statusnya pacaran dan pacar mengatakan putus hubungan, apa yang bisa dilakukan?



3. Bukti cinta bukan berarti mau diajak “ehem..ehem…”
Tidak sedikit cewek yang kesulitan menolak diajak “ehem..ehem…” oleh cowoknya. Lebih-lebih ketika si cowok yang sudah memberi banyak perhatian meminta bukti cinta dengan melakukan “ehem…ehem…”. Perlu dipahami bahwa membuktikan cinta bukan berarti mengikuti setiap ajakan. “Masak diminta njebur ke laut (padahal tidak bisa berenang), diikuti juga?” Lagi pula, banyak kesempatan membuktikan cinta ketika sudah menikah. “Jika benar-benar cinta, temui orangtuaku dan kita menikah”, katakan demikian pada si cowok.


4. Ada banyak cowok yang lebih baik
Ada pula cewek yang awalnya strong menolak diajak “ehem..ehem..” tetapi karena beranggapan bahwa cowoknya adalah yang terbaik dan paling mengerti kemudian goyah. Sebelum itu terjadi, pahamilah bahwa ada banyak cowok yang lebih berkualitas. Seberapa berkualitas pasangan yang seseorang dapatkan sebanding dengan kualitasnya. Dengan demikian, jaga diri dan terus tingkatkan kualitas. Saat sudah naik level kualitas diri seseorang, dia akan temukan orang-orang yang berkualitas pula.

Baca: Inilah Calon Pasangan yang Layak Diperjuangkan. Kalaupun Harus Menunggu, Lakukan Dengan Gembira.


5. Renungkan kembali tujuan dalam membangun hubungan
Berapa banyak orang yang benar-benar memahami tujuan hidupnya? Ada banyak orang kehilangan kesempatan dan waktu berharga karena tidak memiliki orientasi. Salah satunya adalah dalam membangun hubungan. Berapa banyak mereka yang pacaran nyaris 10 tahun kemudian putus? Ada pula mereka yang barus hitungan bulan, bahkan minggu tetapi karena sudah memiliki tekad kuat dan orientasi membangun rumah tangga, mereka menikah dan hidup bahagia. Dengan demikian, poinnnya bukanlah tentang lamanya mengenal tetapi lebih pada niat diri dan orientasi untuk membangun rumah tangga. Jadi, jika sudah membangun hubungan dan mengetahui dia adalah orang baik, mengapa tidak mengajaknya segera menikah?


6. Pegang kuat prinsip dan nilai moral
Setiap orang tentunya memiliki nilai moral yang jadi pegangan, terutama adalah agama. Agama manakah yang memperbolehkan hubungan layaknya suami istri di luar pernikahan? Tidak ada. Setiap agama memberikan tempat terbaik untuk status rumah tangga dan menyiapkan ritual sakral layaknya sebuah ibadah. Tegas katakan, “Tidak mau dan kita putus” jika ada yang mengajak “ehem…ehem…”. Bukankah itu juga menunjukkan kualitas diri dia? Seolah tampak baik tetapi ternyata menyimpan maksud tersembunyi.

Itulah sejumlah tips bagi para cewek kalau diajak “ehem…ehem..” oleh cowoknya. Tentulah setiap cewek yang baik, layak mendapatkan cowok yang baik. Demikian pula, cowok yang baik layak untuk mendapatkan cewek yang baik. Semoga mereka yang baik dipertemukan dan disatukan dengan yang baik pula. Aamiin.

*) “ehem..ehem..” = ML


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved