Sunday, February 12, 2017

Dilema Cewek Memilih Antara Menunggu Cowok yang Sudah Mapan Tapi Belum Siap Menikah dengan Men-iya-kan Cowok yang Siap Menikah Tapi Belum Mapan?


Adakah para cewek yang pernah mengalami situasi yang dilematis antara memilih menunggu cowok yang mapan dengan cowok yang siap menikah tetapi belum mapan? Kemapanan merupakan hal yang penting dalam rumah tangga.

1. Hidup berumah tangga itu butuh biaya


Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup berumah tangga memiliki banyak kebutuhan. Sebut saja tempat tinggal, kendaraan, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan lainnya. Kalau dihitung-hitung tentunya akan ketemu dengan angka yang tidak kecil.  Cowok yang mapan (sudah punya pekerjaan, berpenghasilan, punya rumah sendiri, punya mobil dll) tentunya lebih bisa memberikan jaminan ketenangan tercukupi kebutuhan-kebutuhan dalam berumah tangga.

2. Hidup bermasyarakat itu butuh status


Setelah berumah tangga, orang akan tinggal di lingkungan masyarakat, bertetangga, dan hidup menjadi bagian dari masyarakat. Keluarga sendiri definisinya adalah entitas terkecil dari masyarakat yang di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang melihat status, salah satunya pekerjaan. Hal umum ketika ada orang bertanya tentang jenis pekerjaan dan tempat kerjanya. Menikah dengan cowok mapan tentunya lebih bisa memberi ketenangan. Tidak perlu ada rasa inferior ketika ada orang bertanya tentang pekerjaan, lebih-lebih ketika memiliki rumah sendiri dan kendaraan sendiri.

3. Penantian cowok mapan terbayar sudah ketika menikah


Penantian adakalanya membosankan. Hanya orang-orang yang punya keyakinan kuat yang sanggup melampaui penantian. Menunggu cowok mapan untuk siap menikah bukanlah hal yang buruk. Menikah dengan cowok mapan adalah idaman bagi banyak cewek. Tentunya, penantian hanyalah syarat untuk memetik buah yang manis.

Dalam situasi yang tidak rumit; usia masih muda, tidak diburu-buru untuk menikah oleh orangtua, dan tidak ada alasan untuk segera menikah, pastinya menunggu cowok mapan adalah pilihannya. Namun demikian, persoalan menjadi rumit ketika usia sudah waktunya menikah dan orangtua sudah ingin segera punya cucu, maka memilih antara menanti cowok mapan atau cowok belum mapan yang siap menikah tentunya menjadi dilemma tersendiri. Idealnya kalau bisa diminta tentunya cowok mapan dan siap menikah.

1. Menikah dengan cowok yang belum mapan bukanlah aib


Ukuran kemapanan bisa saja berbeda bagi masing-masing orang. Hal terpenting dalam pernikahan adalah tanggung jawab, karena pada dasarnya pernikahan adalah penyerahan tanggung jawab anak perempuan dari orangtua pada pengantian pria (menantu). Mendapatkan cowok mapan yang siap menikah bukanlah hal yang mudah. Kenapa tidak menikah terlebih dahulu lalu bersama-sama membuat kemapanan? Usaha bersama ketika sudah menikah itu bisa menjadi modal untuk saling menguatkan cinta dalam kehidupan berumah tangga.

2. Utamakan berpenghasilan daripada status pekerjaan


Di era digital seperti sekarang ini, banyak pekerjaan yang seolah tidak mendapat strata khusus di masyarakat. Banyak pekerjaan baru bermunculan dan tidak semua orang mengetahuinya. Sebut saja pekerjaan sebagai blogger, youtuber, internet marketing dll. Istilah yang dipandang aneh tentunya jika diisikan pada kolom pekerjaan di KTP. Namun demikian, banyak orang yang sukses dari pekerjaan tersebut. Dari luar tampak seolah pengangguran tetapi rekening pastinya banyak saldonya.

3. Mendapati cowok yang siap menikah itu tidak mudah


Pada kenyataannya, banyak cewek mapan yang masih melajang karena tidak menemukan cowok yang cocok. Ada yang cocok tetapi belum siap menikah. Itu saja cowok yang belum mapan. Mencari cowok mapan dan siap menikah serta mau diajak menikah itu lebih sulit lagi, betul? Kesiapan menikah (mau menikah segera) adalah modal bagi yang ingin memulai kehidupan berumah tangga. Perlu diingat bahwa usia semakin bertambah. Pertambahan usia umumnya bukan memberikan tambahan banyak pilihan tetapi semakin sedikit pilihan. Karena itulah, memilih cowok belum mapan yang siap menikah adalah hal yang tidak buruk.

Bagaimanapun, menikah dan kehidupan berumah tangga memiliki tujuan jangka panjang. Hendaknya, siapa saja perlu untuk menimbang masak-masak segala keputusan yang diambil. Luruskan niat ketika hendak menikah sehingga segala proses yang dijalani bernilai ibadah. Pada akhirnya, keputusan membuat pilihan terletak pada anda sendiri karena anda yang paling bertanggung jawab atas kehidupan anda ke depan. 


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved