Sunday, January 1, 2017

Dzikir untuk Kesehatan Mental, Ini Bukti Empirisnya


Dzikir” menurut bahasa artinya “mengingat”. Istilah tersebut sudah sangat familiar terutama bagi umat Islam. Dzikir menjadi salah satu amalan yang bernilai pahala. Biasanya setelah selesai sholat 5 waktu, umat muslim menyediakan waktu sejenak untuk berdzikir sebelum kemudian berdoa. Ada pula aktifitas dzikir berjamaah atau dzikir masal semacam istighosah (dzikir kemudian dilanjut dengan doa). Selain bagian dari ibadah dan mendapat pahalan bagi umat muslim, sejumlah penelitian tentang dzikir menunjukkan manfaat terutama bagi kesehatan jiwa. Berikut ini sejumlah manfaat dzikir bagi kesehatan mental:

1. Dzikir menjadikan hati lebih tenang dan tentram

Saat orang berdzikir, mereka menghadirkan fisik, hati, dan pikiran untuk mengingat Allah SWT. Fokus diri untuk memuji kebesaranNya dan keagunganNya, memohon ampun atas segala salah dan khilaf, dan membaca ayat kitab suci serta pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ada kelompok-kelompok jamaah yang memiliki jadwal khusus untuk berkumpul kemudian menggelar dzikir bersama. Kelompok tersebut biasanya dinamai majelis dzikir. Studi yang dilakukan terhadap para anggota manjelis dzikir menunjukkan bahwa mereka mengaku lebih tenang jiwanya.

2. Dzikir bermanfaat untuk mengatasi kecemasan

Kecemasan merupakan perasaan was-was yang ditunjukkan dengan adanya pikiran negatif akan masa depan, diri sendiri, dan lingkungan. Mereka yang mengalami kecemasan merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang negatif yang tidak diinginkan dan di luar dari kontrol dirinya. Dzikir ternyata bermanfaat untuk menurunkan tingkat kecemasan yang dialami seseorang. Studi terhadap sejumlah wanita yang mengalami kecemasan kehamilan pertama membuktikan bahwa dzikir menjadikan kecemasan mereka menurun.

3. Dzikir menjadikan orang lebih bisa merasakan hal-hal yang positif

Dalam kondisi tertentu, ada orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Munculnya perasaan bersalah yang tidak wajar, takut, gugup, dan pesimisme. Tentulah jika hal tersebut berlangsung terus menerus akan beresiko munculnya dampak negatif bagi orang tersebut. Studi menunjukkan bahwa dzikir bermanfaat untuk menurunkan afek negatif (perasaan negatif) yang dialami oleh seseorang.

4. Dzikir bermanfaat untuk mengatasi depresi

Hidup tidak selamanya bahagia dan tidak selamanya sedih. Pada saat tertentu ada situasi yang membuat orang merasa tidak berdaya. Bahkan, ada orang-orang yang selain merasa tidak berdaya juga sering mimpi buruk, tidur tidak pulas, selera makan menurun, kehilangan minat melakukan aktifitas, dan menarik diri dari lingkungan. Itulah sebagian dari gejala-gejala yang disebut dengan depresi. Studi terhadap para lansia yang mengalami gejala depresi membuktikan bahwa dzikir mampu mengurangi tingkat depresi yang dialami.

5.  Kualitas dzikir menentukan kebahagiaan

Dzikir memiliki manfaat positif. Tentunya kualitas dan kuantitas dzikir yang baik jadi faktor penentu sejauhmana kemanfaatannya. Kualitas dzikir yang baik dari seseorang ternyata memiliki korelasi positif dengan tingkat kebahagian yang dirasakan. Dengan demikian, jika kualitas hidup terasa ada yang kurang, maka perbaikan kualitas dzikir merupakan salah satu alternatifnya.

Daftar Bacaan:
5. Muslimah,L. 2014. Hubungan Kualitas Dzikir Dengan Kebahagiaan Pada Mahasiswa AktivisDakwah Kampus (ADK) Unsyiah. 


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved