Tuesday, September 20, 2016

Banyak Pikiran Bisa Jadi Sumber Permasalahan




“Mas kok tahu kalau saya sedang banyak pikiran?”, tanyanya sembari tersenyum setelah saya meminta untuk mengungkapkan apa yang sedang merisaukan pikirannya. Banyak orang yang datang meminta untuk konsultasi diawali dengan mengungkapkan keluhan-keluhan yang dirasakan. Tidak semua orang memahami apa yang sebenarnya menjadi masalah bagi dirinya dan apa yang terjadi sebenarnya. Karena itulah, seseorang datang untuk berkonseling guna mendapatkan solusi atas apa yang dikeluhan.
Pada dasarnya, keluhan bisa jadi bukan merupakan permasalah itu sendiri. Keluhan adalah gejala atau sinyal yang dirasakan oleh seseorang bahwa dirinya sedang ada permasalahan. Dalam perkembangannya, keluhan yang dirasakan begitu kentara sehingga tampak lebih dominan daripada permasalahan intinya. Dengan demikian, terapi yang dilakukan bisa dengan mengatasi keluhan yang dirasakan atau mengatasi inti permasalahan. Keduanya memiliki alasan masing-masing.
Keluhan segera diatasi dengan harapan bisa mengatasi ketidaknyamanan yang sedang dirasakan. Memberikan kesempatan seseorang untuk mengungkapkan segala yang dirasakan merupakan cara yang bermanfaat bagi seseorang yang datang untuk konseling. Ada kelegaan yang dirasakan setelah mengungkapkan segala yang dirasakan baik tentang keadaan fisik maupun emosi yang saat itu dirasakan.
Mendengarkan empatik dengan refleksi-refleksi perasaan oleh konselor menjadi teknik yang bisa digunakan untuk menciptakan suasan teraupetik. Seseorang merasa diterima, dihargai, ditempatkan sebagai manusia yang utuh dan mengalami segala yang selama ini diabaikannya. Rasa kecewa, sakit, keluhan-keluhan yang seolah diabaikan oleh seseorang karena ingin menunjukkan dirinya kuat.
Mendengarkan secara empatik juga menjadi dukungan supportif bagi mereka yang datang untuk konsultasi. Perasaan bahwa dirinya tidak dihakimi, diterima apa adanya, tanpa evaluasi, dan dipahami sebagai manusia yang punya kelemahan juga kelebihan. Suasana yang menjadi seseorang terbuka pencerahan dan keratifitasnya dalam menghadapi dunia. Seolah selama ini, keluhan-keluhan yang dirasakan menutup kreatifitasnya. Keluhan-keluhan tersebut sudah tersingkap dan tampilah diri sejati seseorang dengan segala potensi positifnya.
Bagaimana dengan inti permasalahan?
Keluhan-keluhan fisik seperti pusing, sakit pada bagian tertentu tubuh, mual, nafsu makan berkurang, sulit tidur yang umunya tidak semata-mata disebabkan karena faktor fisiologis tetapi juga faktor psikologis. Pikiran memiliki peran penting terhadap sikap, tindakan, dan berkembang menjadi pola perilaku yang mempengaruhi kesehatan fisik. Antisipasi berlebih akan sesuatu yang belum terjadi yang menjadikan seseorang berpikir aktif tetapi terhenti tidak tersalurkan dalam tindakan yang tepat. Akhirnya yang terjadi, kelelahan fisik dan keluhan-keluhan akan kesehatan. Pikiran memang seolah tidak terbatas tetapi fisik yang tidak kuat, akhirnya kepayahan dan mengalami keluhan kesehatan.
Perlu kiranya memeriksa pikiran sendiri; apa yang dipikirkan, seberapa banyak dipikirkan, dan dampak-dampaknya atas pikiran tersebut. Ada beragam pikiran-pikiran dan setiap manusia memang tentunya senantiasa memikirkan keadaan dirinya. Hanya saja memang ada pikiran yang memang penting untuk dipikirkan dan ada yang sebenarnya hanya bayangan-bayang yang tidak perlu dipikirkan.
Setiap orang memiliki kapasitas fisik yang beragam untuk menampung pikiran-pikirannya. Banyaknya pikiran yang tertampung tetapi tidak tersalurkan atau mengalami kebutuhan bisa berdampak pada keadaan fisik seseorang. Ibaratkan air yang terus mengalir agar jernih dan terus mengalir menemukan jalan alirnya. Jika menggenang, air tersebut rawan menjadi sarang penyakit. Mengenali banyaknya pikiran dan membuat jalan alirnya akan membantu mengatasi keadaan. 


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved