Tuesday, September 13, 2016

Bagimana Agar Solusi dan Inspirasi Mendatangi Kita?


Ingatkah suatu kali, masa dimana anda merasa tidak kuat lagi menanggung berbagai permasalahan? Saat ketika mengeluh dengan nada protes pada Tuhan, mempertanyakan mengapa semuanya mesti terjadi dalam kehidupan? Dalam sepertiga malam, tiada daya, penuh kelelahan kemudian anda berpasrah diri untuk mendapatkan penyelesaian. Dan entah bagaimana jalannya, tiba-tiba beberapa waktu kemudian (mungkin hari, bulan, mungkin juga baru sekarang ini) ternyata semua yang telah dijalani menuntun pada keberhasilan.
Semua yang dialami ternyata menjadi proses pendidikan, pendewasaan yang menghantarkan diri seperti sekarang ini. Aneh jika dipikir-pikir alur dan perjalanannya, hanya kesyukuran yang akhirnya perlu dilakukan. ”Tuhan Maha Bercanda,” kata seorang teman. Maksudnya, ketika logika bumi sudah tidak mempan maka pasrahkan, biar logika langit yang menyelesaikan. Tiba-tiba jalan yang tidak disangka-sangkakan datang begitu saja, di saat yang tepat, disaat dibutuhkan, kala itu pula keajaiban Tuhan datang. Ingat berbagai peristiwa ajaib yang pernah anda lalui?
Dalam kesempatan yang lain mungkin ingat saat melakukan semacam coba-coba, iseng-iseng berhadiah istilahnya. Orangtua yang memasukkan lamaran kerja. Sekian waktu, anda sendiri mungkin pula orangtua anda sudah lupa, saking lamanya tidak ada panggilan, dikira tidak diterima. Namun, sungguh diluar perkiraan, ada surat dari kantor pos. Tanpa ada rasa apa-apa, dibuka surat tersebut dan mengherankan ternyata itu surat panggilan tes kerja. Betapa gembiranya orangtua. Anda sendiri merasa tidak habis pikir dengan surat panggilan tersebut.
Sekian kali melamar pekerjaan, entah berapa banyaknya sampai-sampai tidak terhitung jumlahnya. Dalam kepasrahan jiwa, kekhusyukkan dalam berdo'a, dan penyerahan diri pada Yang Maha Pencipta, ada saja keajaibannya. Bukan hanya satu tempat diterima, dua bahkan diterima kerja di beberapa tempat sekaligus sampai-sampai bingung juga untuk memilihnya. Ada yang mengalami hal demikian? Allah Maha Kaya, Maha Kuasa.
Bagi sebagian yang lain, barangkali bukan perihal lamaran kerja. Ingat saat ujian Sipenmaru atau SPMB dulu? Ikut-ikutan daftar ujian masuk perguruan tinggi, temannya tidak lolos tetapi justru yang iseng-iseng malah keterima. Padahal jika diingat-ingat saat mengerjakan ujian juga biasa-biasa saja. Kalau mau dihitung-hitung jumlah yang benar-benar dikerjakan tidak lebih banyak dari soal yang dikerjakan dengan sekenanya. Saat teman yang lain ngos-ngosan belajar, andanya nyantai, rilek seraya tanpa beban. Ujian? ”Ya, ujian.” Kerjakan dan pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Jika diterima, ya disyukuri. Kalaupun tidak diterima mungkin belum keberuntungannya. Anda pernah mengalami hal serupa? Hasilnya malah lebih bagus dari yang dikira?
Dalam hal jodoh, sekian kali menjali hubungan, sekian melakukan ta'aruf bahkan hampir sampai lamaran tetapi belum mendapatkan yang diidamkan. Dalam kepasrahan, renungan antara kenyataan dan harapan, nyaris sudah tidak berharap lagi hal ideal yang diinginkan justru semuanya datang. Orang yang selama ini diidamkan, sesuai keinginan diri dan apa yang orangtua syaratkan, muncul begitu tiba-tiba menyatakan diri ingin menjadi patner berkeluarga. Anda merasakan hal yang demikian? Caranya, jalannya, orangnya, semuanya tidak dinyana-nyana sampai-sampai ada yang masih bertanya-tanya apakah itu benar-benar nyata. Mereka yang mengalami hal demikian pastinya akan, mengiyakan dan bisa bercerita panjang.
Fenomena lain yang biasa orang alami adalah ketika mereka menghadapi sebuah permasalahan; dipikir-pikir, direnungkan sampai tidur tidak nyenyak, makan pun terasa tidak enak belum juga ketemu jawaban. Entah kenapa, tiba-tiba muncul petunjuknya ketika sedang mandi. Tanpa pikir panjang, keburu jawabannya hilang, mandi pun segera diselesaikan. Orang menyebut fenomena tersebut dengan istilah ”Eureka.” Ide yang muncul tiba-tiba kita sebut saja sebagai inspirasi.
Ketika seseorang menerima informasi maka informasi tersebut dicocokkan dengan memori yang telah ada untuk diterjemahkan. Saking kompleknya informasi yang masuk menyebabkan kesulitan pikiran untuk memprosesnya secara cepat. Anda ingat ketika banyak hal yang harus anda kerjakan kemudian menjadikan anda kebingungan?
Untuk mengatasi kebingungan, biasanya seseorang butuh waktu tenang guna merenung tindakan yang harus dilakukan. Sementara menjernihkan pikiran, informasi-informasi diinkubasi (diolah) dan pikiran bawah sadar pun aktif bekerja. Di sanalah, pikiran bawah sadar bekerja dengan kreatifitasnya, semua informasi dicocokkan walaupun tidak logis. Akibatnya, jawaban yang muncul (inspirasi) berwujud simbol dan kemunculannya tiba-tiba. Dalam ilmu neurologi, diketahui bahwa saat seseorang mendapatkan jawaban dari permasalahannya maka ada semacam kilatan dalam sambungan neuron di kepala. Layaknya ruang gelap yang kemudian menjadi terang.
Dari mana datangnya inspirasi?
Dari mana datangnya berbagai jalan keajiaban tadi?
Apa pula sebenarnya yang dimaksud pikiran bawah sadar?
Kata inspirasi merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, “inspiration.” Jika dirunut-runut, kata tersebut berasal dari Bahasa Latin, ’in’ dan ’spiro’ yang diartikan sebagai “nafas Tuhan.” Dalam Bahasa Arab, inspirasi sejajar dengan makna ilham. Ispirasi merupakan ilham atau pencerahan yang diterima manusia dari Tuhan. Saat manusia melampaui batas-batas dimensi material dirinya, maka dia akan menemukan pencerahan. Olehkarena itulah, inspirasi (jawaban) permasalahan biasanya muncul saat pikiran tenang (rileks). Dalam keadaan tenang tersebut, informasi-informasi dan ide-ide dari alam ketidaksasaran menyembul keluar.
Alam ketidaksadaran dalam kajian psikologi dikatakan berperan dalam penyesuaian terhadap dunia dalam. Hal-hal yang diperoleh individu selama kehidupan (ingatan, hal-hal yang tertekan) dan  hal-hal yang diperoleh selama pertumbuhan jiwa manusia dari generasi ke generasi (emosi, dorongan-dorongan primitif) merupakan isi dari ketidaksadaran. Jung, seorang tokoh psikologi analitis menyebut masing-masing ketidaksadaran tersebut dengan ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi berasal dari pengalaman pribadi, ketidaksadaran kolektif merupakan warisan turun temurun dari generasi ke generasi.
Emosi dikatakan sebagai salah satu dari isi ketidaksadaran kolektif. Mengapa ekspresi senang (senyum) seluruh manusia hampir sama? Menurut Jung, karena ekspresi tersebut turun-temurun diwariskan dari generasi pertama hingga kita, sekarang ini. Namun demikian, Jung sendiri sadar bahwa ada dari isi ketidaksadaran kolektif yang asing, hal-hal yang sama sekali tidak bisa dibuat sadar. Dia mengatakan, ”Ketidaksadaran kolektif sebagai warisan kejiwaan yang besar daripada perkembangan kemanusiaan yang terlahir kembali dalam struktur tiap-tiap individu.” Maksudnya, saking komplek dan rumitnya isi ketidaksadaran kolektif, dia berasumsi bahwa semuanya diwariskan secara alamiah oleh manusia.
Apakah benar bahwa ketidaksadaran kolektif (sumber dari inspirasi) hanya sekedar produk alamiah kemanusiaan? Justru dalam bagian ini hal mendasar yang perlu didetailkan. Dalam pandangan Islam, apa yang dikatakan Jung sebagai ketidaksadaran kolektif merupakan potensi fitrah yang Allah SWT berikan pada setiap manusia. Kekomplekan isi dari ketidaksadaran yang diketahui dari manifetasi isi ketidaksadaran seperti; symptom (gejala), mimpi, fantasi, khayalan, dan reflek merupakan fitrah dari Tuhan. Sudah semestinya seseorang akan mendapat pencerahan (inspirasi) jika menyelami dunia dalam dirinya sendiri, menyingkap tabir yang menutupi fitrahnya. Benarlah ungkapan. ”Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.”
Lawan dari ilham adalah dhon (sangkaan). Jika ilham merupakan pencerahan dari Tuhan maka dhon bersumber dari asumsi-asumsi yang dilandasi hawa nafsu dan bersifat merugikan diri sendiri juga orang lain. Sederhana untuk melacak kebenaran sangkaan, cek-lah dengan pertanyaan berikut;
1.      Apa yang anda sangkakan?
2.      Darimana anda mendapatkan refrensi sangkaan tersebut?
3.      Seberapa valid sumber yang anda jadikan refrensi?
4.      Bermanfaat atau merugikan sangkaan tersebut bagi diri anda?
Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An-Naas: 1-6).
Berserah diri pada Allah SWT dan berlepas dari segala asumsi-asumsi merupakan kunci yang harus dipegang kuat dalam mendapatkan hasil lebih dari teknik dalam buku ini. Wujud riilnya adalah meniatkan segala tindakan hanya untuk Allah SWT; berpasrah diri, beribadah, penyembahan, hidup, dan mati termasuk pula hasil dari segala kegiatan. Bekerja dengan melibatkan Tuhan, dan merasa lega atas segala yang didapatkan dari usaha yang dilakukan. 
Perhatikan keterangan dalam Surat Al Faatihah dan Surat An-Naas. Pastinya setiap muslim pernah membacanya, setidaknya 17 kali sehari dalam sholat. Surat Al Faatihah merupakan surat pembuka dalam Al Qur’an, sedangkan Surat An-Naas adalah surat terakhirnya. Jika dicermati, isi dari Surat Al Faatihah sebagai surat pembuka diulang kembali sebagai penegasan pada Surat An-Naas. Subhanallah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [1]. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai[4] di Hari Pembalasan[5]. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7]. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9] (QS Al Faatihah: 1-7).
Banyak kenikmatan (keajaiban) yang tidak disadari seseorang. Bisa jadi saking sering keajaiban dalam kehidupannya sehingga dianggap biasa, mereka mengatakan sebagai sebuah kebetulan. Anda tentu ingat saat-saat ketika muncul pertolongan, penyelesaian masalah, terkabulkannya do’a yang tidak disangka-sangka cara dan jalannya. Oya, pernahkah merenungkan bahwa segala yang anda dapatkan apakah benar-benar usaha anda atau lebih banyak dikatakan keberuntungan? Perencanaan ideal yang dibuat apakah lebih banyak terjadi atau lebih banyak gagalnya? Kepasarahan kepada Tuhan menjadikan banyak cara elegan, tidak manusia sangka-sangkakan bermunculan, bukan? Maka cobalah untuk mengingat kembali dan menuliskan berbagai pengalaman ajaib dalam kehidupan anda. Keajaiban itu adalah segala yang terjadi berupa kebaikan dan itu bukan semata-mata karena usaha yang anda lakukan.

Pengalaman Ajaib dalam Kehidupan Anda
Bagaimana Kedekatan (Kepasarahan) Anda pada Tuhan Ketika Itu







EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved