Monday, August 8, 2016

Waspadalah, Jangan-jangan Anda Selama Ini Belajar Berputus Asa


Dari berbagai teknik terapi telah dipelajari, sekian pengobatan di jalani, buku motivasi sampai bosen hati, apalagi training motivasi seraya tidak mempan lagi. Ditambah dengan adanya kabar jika sumber masalah ternyata sulit dicari karena pandai menyerupai. Anda mengalami sebagian besar hal yang demikian? Apa yang anda lakukan? Cobalah ingat sebentar, benarkah kata-kata yang kemudian sering dikeluarkan bernada keluhan, curhat tetapi lebih bersifat pelampiasan, dan inginnya didengarkan? Rasanya sudah tidak ada gunanya minta saran karena ujung-ujungnya diminta bersabar atau mungkin semua sarannya sudah pernah anda dapatkan dan anda paham benar saran itu?
Semua orang tentunya pernah mengungkapkan keluhan pada orang lain. Pertanyaannya, “Pernahkah belum sempat anda menceritakan semua permasalahan tetapi teman anda memberikan seabreg ceramah?” Dan anda merasa tidak puas padahal anda sebenarnya hanya ingin didengarkan. Pernah mengalami hal demikian?
Perlu dipahami memang, ketidaknyamanan seseorang yang dijadikan ‘tempat sampah’ masalah. Setiap orang tentunya punya masalah, kasihan jika dia dijadikan tempat penampung masalah (curhat negatif). Walaupun hanya mendengarkan cerita tetapi biasanya mereka yang menjadi tempat curhat negatif, suasana hati mereka menjadi sedih. Mungkin anda ingat, pagi-pagi bangun dalam kondisi fresh tetapi teman anda bercurhat negatif lewat telpon. Suasana hati anda hari itu entah mengapa menjadi sedih juga. Bahkan, ada saja kejadian yang menguatkan kesedihan tersebut. Pernah mengalaminya?
Sudah saatnya curhatan-curhatan yang negatif diubah dengan curhatan positif, bercerita tentang kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan. Sebagaimana orang pahami tentang tiga daya dorong perilaku yaitu ketakutan, kesenangan, dan cinta. Banyak keluhan dan perasaan sedih (kecewa, takut, marah, stress) hanya akan menyebabkan memendek, menciut, dan mengerutnya DNA. Sedangkan bercerita tentang cinta, perasaan bahagia, penghargaan akan menjadikan benang DNA saling membukan dan memanjang. Pandangan tersebut merupakan hasil penelitian Glen Rein dan Rollin McCraty, ilmuan HeartMath Institute tahun 1992-1995.
Dalam dunia psikologi, Overmier  dan  Seligman  (1967) mengembangkan konsep ‘ketidakberdayaan yang dipelajari.’ Penelitian tetang kejutan listrik terhadap anjing mengispirasi konsep  ketidakberdayaan yang dipelajari. Seekor anjing ditaruh didalam sebuah box kemudian setiap kali anjing melakukan sesuatu maka dengan segera kejutan listrik bekerja. Bisa dibilang, tidak ada kesempatan bagi anjing untuk tidak terkena kejutan. Anjing tersebut hanya diam tak melakukan apa-apa walaupun kemudian sudah dipindahkan ke box berbeda. Dia seolah-olah sudah kehilangan minat dan merasa putus asa. Dengan demikian, diperkirakan bahwa ketidakberdayaan yang dialami anjing merupakan hasil dari pembelajaran.
Terlalu ekstrim memang jika menyederhanakan konsep kemanusiaan dari penelitian binatang. Namun setidaknya, kita bisa mengambil pembelajaran bahwa semakin seseorang menghayati kesedihan maka semakin dia akan merasa sedih, tidak berdaya, dan putus asa. Banyak pula orang-orang yang kita temui misalnya seorang pasien yang difonis sakit parah menjadi semakin parah walaupun dirawat intensif di rumah sakit. Sebabnya, banyak cerita-cerita negatif yang mereka dengar, peristiwa-peristiwa akhir mengenaskan teman satu rumah sakit yang dilihatnya. Anda bisa bayangkan sendiri ketika ada seseorang yang sakit kemudian orang-orang yang menjenguk bercerita tentang kematian pasien yang penyakitnya sama dengan dia. Apa yang kira-kira terjadi dengannya? Semakin sehat atau malah sock?
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (QS Ali 'Imran: 139).
Hampir setiap orang pernah mendapati dirinya dalam keluhan. Wajar memang karena ada kalanya masalah yang seseorang terima melebihi kapasitas dirinya. Namun demikian, sebagaimana dipahami bahwa semakin mengeluhkan malah menjadikan parahnya keadaan. Cobalah untuk mengingat kembali keluhan-keluhan yang pernah anda alami, reaksi yang pernah anda lakukan, dan bagaimana dampaknya. Anda butuh teknik yang bisa atasi permasalahan, bukan sekedar mengurangi keluhan.

Keluhan yang Pernah Anda Alami
Respon Anda (Kata-kata, Sikap, Perilaku)
Dampak dari Respon Tersebut








EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved