Friday, August 19, 2016

Tahukah Anda, Perlunya Terapi Pikiran dan Hati?


Dualisme pandangan logika vs rasa, rasional vs emosional sudah lama berkembang dalam sejarah kemanusiaan. Umum dipahami orang bahwa pandangan Barat identik dengan logika sedangkan Timur lebih mengedepankan rasa. Dalam konteks yang lain dikatakan bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan logika rasional dalam penyelesaian masalah sedangkan wanita lebih dominan dalam emosional. Seakan-akan logika dan rasa, rasional dan emosional terpisahkan bahkan terkadang dipertentangkan. Kita bisa cermati bagaimana perbedaan mencolok hasil karya (budaya) antara Barat dan Timur. Dalam hubungan interpersonal, dominasi laki-laki dengan logikanya juga pernah tercatat dalam sejarah terpinggirkannya peran kaum wanita. Muncul kemudian perjuangan kesetaraan gender.
Seiring interaksi dan keterbukaan untuk saling memahami potensi yang selama ini dibedakan dan dipertentangkan justru banyak usaha dilakukan untuk memadukan keduanya. Potensi kognitif dan afektif dipadukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Wanita menjadi kepala Negara sudah biasa, menteri apalagi. “Perkawinan” ilmu Barat dan ilmu Timur nyatanya menghasilkan manfaat yang lebih besar. Spiritual Timur dengan olahan logika Barat menghasilkan berbagai teknik terapi dalam dunia psikologi. Logika Barat yang cenderung materialisme mau tidak mau menjadi semakin mendekati spiritual dan transendental.
Richard J.Davidson dari Universitas Wisconsin, Madison mengemukakan pandangan baru tentang perlunya Affective Neuroscience. Selama ini yang dikenal dalam dunia ilmu psikologi dan neurologi adalah Cognitive Neuroscience. Berbagai perilaku manusia diyakini merupakan reaksi dari penterjemahan stimulus yang ada di lingkungan oleh potensi kognitif yang ada di otak. Padahal, sangat dimungkinkan sebelum muncul tanggapan terjadilah dialog antara potensi kognitif (rasional) dengan afektif (emosional). Ketika seseorang, katakanlah berhadapan dengan harimau, apakah dia menghindar atau malah mendekati ditentukan dari dialog kognitif dan afektif. Lari menghindar merupakan hasil dari logika ‘berbahaya’ dan rasa ‘takut’.
Davidson mengemukakan berbagai kajian bahwa bagian-bagian otak tidaklah secara khusus hanya mengurus kognitif saja atau hanya mengurus afektif saja. Prefrontal cortex (PFC) misalnya yang selama ini dikatakan hanya berhubungan dengan potensi kognitif ternyata memiliki peran besar dalam mengatur emosi. Dia menegaskan peran penting pelibatan afektif dalam analisis kognitif. Tanpa afektif, kognitif hanya akan menjadi gerak tanpa kendali sedangkan afektif tanpa kognitif hanya akan menghasilkan respon yang primitif.
Hal yang mencengangkan para ilmuan adalah pandangan bahwa pusat rasa ternyata bukan terletak di otak tetapi di hati (jantung). Bahkan, hati disebut sebagai pusat dari segala tindakan. Hati mengirim isyarat kepada otak, mengenai hormon, endorphin, atau zat-zat kimia yang dibutuhkan tubuh. Hati menyebarkan informasi ke otak dan berbagai bagian tubuh dengan perantaraan emosi (perasaan). Dalam hati (jantung) ditemukan juga medan elektrik yang daya sinar elektriknya (EKG) mencapai 60 kali lipat dibanding sinyal elektrik otak (EEG). Sedangkan medan magnet yang dipancarkan mencapai 5.000 kali lebih kuat dibading medan magnet yang ditimbulkan otak. Medan elektrik dan medan magnet jantung akan semakin besar dan mempengaruhi tubuh seiring kuatnya emosi dan keyakinan seseorang. Jangan heran ketika suatu kali jantung anda merasa deg-degan (berdetak lebih cepat) saat bertemu ada orang asing, barangkali jantung anda menangkap getaran jahat (mungkin dia seorang copet). Mungkin pernah mengalaminya lalu dengan segera anda menghindar dari orang tersebut?
Wajar kemudian hati dikatakan sebagai pusat dari segala rasa. Jika otak hanya mampu berpikir tentang rasa maka hati benar-benar bisa merasa. Kemampuan otak untuk berpikir tentang rasa biasa orang kenal dengan istilah kecerdasan emosional. Namun, emosi-emosi negatif seperti benci, dendam, tamak, sombong, marah juga emosi-emosi positif letaknya di hati. Otak hanya mampu berpikir tentang keadilan, kejujuran, kebersamaan dst yang kemudian orang kenal dengan istilah kecerdasan spiritual. Namun demikian, sumber-sumber dari berbagai sifat tersebut sekali lagi bukan berada di otak tetapi terletak di hati.
Pengalaman-pengalaman nyata tentang keajaiban hati (jantung) pernah ditulis oleh dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, SpJP, dokter spesialis bedah dan jantung di Riyadh, Arab Saudi. Pernah suatu kali dia diminta untuk memeriksa pasien yang dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit. Dengan stetoskop, dokter Khalid memeriksa detak jantung jasad tersebut. Ada suara aneh yang dia dengar, “Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Dia mengira suara itu adalah suara adzan subuh di masjid tetapi ternyata jam menunjukkan jam satu malam. Sadarlah dia bahwa suara adzan tersebut didengar dari jantung jasad yang telah meninggal. Ternyata, usut punya usut orang yang telah meninggal tadi pada saat masih hidup adalah seorang muadzin. Orang tadi terkenal rajin, datang lebih awal ke masjid, mengkhatamkan Al Qur’an 3 hari sekali, dan senantiasa menjaga lisannya. Banyak pengalaman lain yang ditemui dokter Khalid. Pada intinya keadaan jantung seseorang tergantung dari perbuatan (akhlak, sifat) seseorang.
Berbagai pandangan dan fakta tersebut memberikan pengertian kepada kita semua bahwa tidak cukup kemudian menyelesaikan sumber permasalah dengan logika (pikiran). Dibutuhkan konsep yang lebih dalam tentang motivasi lebih dari berbagai konsep kecerdasan yang ada. Termasuk pula dalam konsep psikoterapi, tidak cukup seseorang berpikir positif kemudian dia benar-benar menikmati keadaan positif. Butuh hal lebih dalam daripada logika yaitu rasa. Karena rasa ternyata mengawali segalanya.
Terbuka kemungkinan penanganan kasus-kasus klinis dengan memfokuskan pada rasa juga pengembangan diri meraih mimpi dengan melibatkan emosi. Orang mengenal istilah olah rasa selain ada konsep olah raga dan olah pikir. Pelepasan-pelepasan emosi-emosi negatif akan menghasilkan pikiran yang positif dan perilaku yang baik. Sebagaimana pandangan dalam agama bahwa ada segumpal darah dalam rongga dada yang menentukan baik-buruknya anggota tubuh yang lain. Dialah hati, orang mengenalnya dengan sebutan jantung. 


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved