Sunday, August 7, 2016

Perjalanan Hidup Ibarat Naik Sepeda


   Perjalanan meraih kesuksesan layaknya naik sepeda. Hal yang diperlukan adalah menggelindingkan roda sepeda sehingga terus bergerak maju. Jalan yang dilalui memang beragam, tidak selamanya datar, kadang menanjak, ada juga yang menurun, kadang jalannya terjal, banyak pula yang halus. Saat dihadapkan dengan tanjakan, barangkali terlalu berat untuk mengayuh sepeda tersebut. Pilihannya bisa berhenti sejenak untuk menghimpun energy lalu berjalan lagi atau turun dari sepeda dan menuntun sepeda tersebut hingga tanjakan terlampaui. Ada juga jalan terjal, saat jalannya terasa tidak mengenakkan, saat itu yang diperlukan adalah kecermatan di jalan sehingga tidak sampai terjatuh ataupun sepedanya rusak. Demikian pula dengan kehidupan, ada saat seolah tantangan terlalu berat ataupun masalah terlalu sulit, diperlukan adalah kecermatan dan kehati-hatian dalam melangkah. Sebagaimana orang naik sepeda yang dihadapkan pada tanjakan dan jalan terjal. Berjalanlah, pasti suasana akan berganti. Pada saatnya akan ditemui jalan yang mendatar, lurus, halus dan terasa nyaman untuk dilalui mencapai tujuan yang ingin dicapai.
 Saat melihat seseorang yang kehidupannya tampak lebih sukses atau lebih bahagia, banyak orang yang tidak menyadari bahwa seseorang tersebut sebenarnya sudah bekerja keras untuk membayar kesuksesannya. Orang lain tahunya seseorang tersebut hidupnya serba enak dan membahagiakan. Padahal, jika benar-benar mau bertanya pada seseorang tadi, pastilah dia sudah tak terhitung lagi kegagalan yang dialami, masa-masa jatuh bangun, saat-saat kesulitan, proses belajar tiada henti, dan usaha gigih mengalahkan ketakutan dalam dirinya sendiri yang sudah dilaluinya. Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, butuh usaha terbaik dalam mewujudkannya. Janganlah berharap terlalu tinggi jika berpangku tangan, bertopang dagu, dan bermalas-malasan. Pepatah mengatakan, jauh panggang dari api. Orang yang tidak melakukan usaha apa-apa tetapi mengharapkan tercapainya cita-cita yang tinggi ibarat pungguk merindukan bulan. Hil yang mustahal.
Allah SWT bisa saja memberikan dengan seketika apa-apa yang manusia minta. Dengan kekuasaannya, Allah SWT tinggal berkata, “Jadilah!” maka jadilah sebagaimana kehendakNya. Tapi mengapa Allah SWT tidak melakukan hal demikian saja bagi semua orang sehingga manusia tidak perlu bersusah-susah? Allah SWT sengaja melakukan hal demikian karena Allah SWT ingin melihat siapa manusia yang melakukan usaha terbaik. Dia menilai dari usaha terbaik yang dilakukan, bukan hasil yang didapatkan. Bagi siapa yang Allah SWT anggap layak atas usaha terbaiknya, Dia anugerahkan apa-apa yang manusia cita-citakan dan rasa bahagia yang menjadikan apa-apa yang diperolehnya bermakna. Selain itu, bukankah itu adil ketika Allah SWT menjadikan ikhtiar sebagai syarat mendapatkan apa-apa yang manusia harapkan. Bukankah tidak adil jika Allah SWT memberi hal yang sama pada semua orang, padahal ada orang yang bekerja keras, ada yang bermalas-malasan, dan ada yang tidak bekerja. Apakah adil jika seorang guru memberikan nilai sama pada semua muridnya, padahal ada murid yang belajar tekun dan ada yang tidak pernah masuk pelajaran?
Manusia bisa menghargai sesuatu ketika dia menyadari betapa perlu usaha keras untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Uang dua ribu rupiah begitu berharga bagi ibu-ibu penjual sayur. Dia mesti menunggu beberapa jam atau berkeliling komplek untuk mendapatkan keuntungan dua ribu rupiah tersebut. Orang yang dari kecil mendapatkan fasilitas melimpah, mudah mendapatkan semua yang diinginkan, dan hidup seolah serba tercukupi sangat mungkin dia kurang bisa menghargai sesuatu. Andai dia anak pemilik perusahaan hebat lalu diserahi kesempatan untuk mengurus perusahaan, belum tentu dia berhasil memajukan perusahaannya. Oleh karena itu, sangat bisa dipahami anak-anak pemilik restoran hebat justru oleh orangtuanya diminta untuk mengerjakan tugas office boy lalu receptionist dan seterusnya sampai kemudian dianggap layak untuk diserahi mengelola sebuah restoran. Tujuannya selain dia memahami seluruh aspek yang ada dari di restoran tersebut juga agar bisa menghargai sesuatu. Percayalah, Allah Maha Adil. Dia akan memberikan balasan yang layak untuk setiap usaha masing-masing.


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved