Monday, August 8, 2016

Memahami Masa Lalu untuk Masa Depan


”Bisa gambarkan bagaimana diri anda? Apakah anda seorang yang introvert atau ekstrovert?” Pastilah anda akan merenung sejenak, setidaknya mencari jawaban tentang bagaimana anda di masa lalu. Dalam tes wawancara di perusahaan, umumnya pertanyaan-pertanyaan untuk menggali kepribadian seseorang mengarahkan para calon pelamar untuk mejawab dengan apa yang telah dialaminya. Diharapkan dengan memahami latar belakang, pengalaman, masa lalu seseorang maka akan diketahui bagaimana seseorang di masa depan (motivasi, kinerja dsb). Tidak dipungkiri, masa lalu mampu mempengaruhi masa depan seseorang.
Dalam kajian psikologi perkembangan dikatakan bahwa perkembangan masa awal pertumbuhan akan mempengaruhi perkembangan periode berikutnya. Perlakuan, pola didik, dan berbagai permasalahan masa pertumbuhan bayi dan kanak-kanak akan berpengaruh terhadap perkembangan seseorang pada masa dewasa. Bahkan dalam kajian psikologi dinamik yang dikembangkan oleh Freud, gangguan-gangguan psikologi disebabkan oleh gangguan pada masa kanak-kanak. Terkesan deterministik, kehidupan masa depan seseorang sudah mati terkungkung oleh masa lalu. Muncul kemudian, pendapat yang menentang Freud seperti Adler yang menekankan bagaimana kehidupan seseorang ditentukan oleh skenario masa depan yang akan dibuat. Pendapat Adler yang awalnya sama-sama pengikut Freud juga dikuatkan oleh Jung yang lebih optimis dalam memandang manusia walaupun dia tidak menampik pengaruh masa lalu tetapi dia juga mengiyakan peran masa depan.
Lepas dari berbagai pendapat para tokoh penggagas psikologi, kita memahami bagaimana Rasulullah mengatakan bahwa setiap anak pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi majusi, yahudi maupun nasrani. Pada tahapan perkembangan awal, orangtua berperan dominan dalam menentukan masa depan seseorang. Dalam perkembangan berikutnya saat akal dan kedewasaan sudah cukup maka dirinya sendiri yang menentukan yaitu melalui pergaulan, literatur, dan berbagai interaksi yang dimiliki. Siapa yang bergaul dengan penjual minyak wangi akan mendapatkan wangi dan siapa yang bergaul dengan pandai besi akan terkena panasnya api, begitu kata Rasulullah.
Masa lalu bukan berarti masa yang sudah lama sekali, bukan pula masa kecil. Satu detik yang lalu bisa juga dikatakan masa lalu. Artinya bukan perkara lamanya waktu tetapi apa yang seseorang temui dalam setiap periode kehidupan akan berpengaruh dalam periode berikutnya. Anda ingat saat pulang dari kantor dalam kondisi lelah, pekerjaan yang belum selesai, presentasi pada bos tidak berhasil, dan anda pulang dalam keadaan penat. Bagaimana perasaan anda sesampainya di rumah? Rata-rata orang membawa rasa marah dan perasaan tidak nyaman mereka ke rumah. Apalagi saat pulang jalannya macet, kepala tambah pening, anak yang lucu juga istri yang berdandan cantik malah dianggapnya neko-neko. Ya, masa lalu mempengaruhi masa sekarang dan masa depan.
Bayangkan seandainya seorang istri tidak memahami keadaan suaminya. Bisa dipastikan, pertengkaran yang justru terjadi. Anda bisa tebak, jika setiap hari hal yang demikian berlangsung, ujung-ujungnya bisa berakhir perceraian. Anak yang akhirnya terkena dampak terbesar karena peristiwa tersebut akan membekas dalam hati mereka. Dipahamilah kemudian, perlu kiranya bijak memahami masa lalu setidaknya latar belakang dari setiap apa yang orang lakukan. Lebih-lebih dalam penyelesaian sebuah permasalahan tentunya pemahaman akan masa lalu akan membantu.
Ada masalah yang penyebabnya dari masa lalu tetapi gejalanya baru muncul dan diketahui ketika sudah usia dewasa dan berkeluarga. Perlakuan keras terhadap anak yang mengarah pada kekerasan fisik mungkin terjadi karena masa kecil orangtua yang pernah mendapati perlakuan yang sama. Secara tidak disadari, apa yang dialami dilakukan pula terhadap anaknya. Dia sendiri tidak sadar karena sudah tertanam menjadi karakter. Termasuk kekerasan terhadap pasangan, dilakukan pula di kantor, dan tempat lain bisa juga karena masa kecil sempat mendapat kekerasan fisik dari orangtua.
Ada orang-orang yang jika diperhatikan sering sakit-sakitan. Dalam kaca mata awam sepertinya wajar tetapi jika dirunut kehidupan masa lalunya, saat kecil memang sering sakit. Sakit yang dia alami pada dasarnya merupakan cara untuk dia mendapatkan perhatian orang lain, dia tidak menyadari itu. Barangkali ketika kecil sering ditolak dan kurang kasih sayang.

Dalam kasus yang lain, ada orang yang meninggal karena sakit yang sama dengan orangtua juga kerabatnya. Kecemasan dan ketakutan-ketakutan terkenang penyakit yang sama seolah-olah terprogram dalam dirinya. Tanpa disadari hal itu benar-benar terjadi dalam kehidupan yang dia lakoni. Sekali lagi, perlu kiranya merunut akar permasalahan dari masa lalu seseorang terutama terkait emosi-emosi yang terpendam karena emosi-emosi tersebut berpengaruh terhadap aspek diri yang lain. 


EmoticonEmoticon

Copyright © PSIKOLOGI MENJAWAB All Right Reserved